Senin, 14 April 2014

KEPERAWATAN MATERNITAS I LEOPOLD DAN PENGHITUNGAN USIA KEHAMILAN SERTA BERAT JANIN DALAM KANDUNGAN



BAB I
LEOPOLD

Pada ibu hamil, pemeriksaan fisik dengan palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya rahim dan usia kehamilan. Palpasi pada ibu hamil disebut dengan Leopold.
  1. Leopold I
Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan dan bagian mana yang ada dalam fundus uteri.
            Pemeriksaan dilakukan dengan cara berikut ;
1.      Sikap pasien    : Tidur telentang ( dorsal recumbent )
2.      Sikap Perawat : Berdiri disebelah kanan pasien dan menghadap muka pasien
3.      Langkah-langkahnya;
a.       Memberitahukan pasien supaya melemaskan diri, dengan menarik nafas panjang
b.      Menentukan tinggi fundus uteri dengan kedua tangan, uterus diketengahkan, menentukan tinggu fundus terhadap sympisism pusat atau prosesus xypoideus
Caranya;
1)      Sikap pasien telentang ( dorsal recumbent )
2)      Sikap perawat berdiri disebelah kanan dan menghadap pasien
3)      Pasien disarankan melemaskan diri / rileks dengan menarik nafas panjang
4)      Meraba fundus uteri. Uterus dipegang dengan kedua tangan, diketengahkan dan dikontraksikan.
a)      Jarak antara pusat dan symphisis, jarak antara pusat, dan processus xyphoideus.
b)      Mengukur dengan sentimeter, jarak antara pusat dan tingginya fundus uteri.
                    Gambar 2
   Mengukur tinggi fundus uteri

c.       Meraba fundus uteri. Pada kehamilan usia lima bulan keatas, untuk membedakan kepala atau bokong. Bila kepala sifatnya keras, bundar dan melenting. Sedangkan bokong akan lunak, kurang bundar, dan kurang melenting.
Caranya;
1)      Tangan perawat pada kedua sisi uterus
2)      Dengan satu tangan terhadap uterus, dan tangan lainnya menekan kembali.
3)      Perhatikan apakah kantong janin menyentuh tangan yang lain, dan memantul kembali pada tangan yang pertama.
4)      Adanya ballotemen merupakan tanda pasti kehamilan
5)      Ciri-ciri kepala :  besar, keras rata dan ber-ballotemen
6)      Ciri-ciri bokong           :  besar, padat, tidak rata, dan kurang ber-ballotemen

          Gambar 1
Cara Leopold I


B.     Leopold II
Leopold II digunakan untuk menentukan letak punggung anak dan letak bagian kecil pada anak.
            Pemeriksaan dilakukan dengan cara berikut;
1.      Sikap pasien    : Tidur telentang ( dorsal recumbent )
2.      Sikap Perawat : Berdiri disebelah kanan pasien dan menghadap muka pasien
3.      Langkah-langkahnya;
a.       Tangan perawat disebelah kanan dan kiri uterus
b.      Mencari dimana tahanan yang lebih besar. Satu tangan menahan perut dan tangan lain meraba dan sebaliknya sambil membandingkan.
c.       Selanjutnya menentukan tahanan mana yang mudah ditekan , tidak rata, adalah bagian kecil. Tahanan yang besar , rata, adalah punggung anak.
d.      Perhatikan pergerakan anak selama palpasi
e.       Perhatikan apakah punggung terletak didepan atau dibelakang.
Jika banyak bagian kecil yang teraba, kemungkinan punggung dibelakang.
f.       Bandingkan dengan anamneses dibagian mana ibu merasakan pergerakan anak, dengan palpasi dan auskultasi denyut jantung anak.

         Gambar 3
    Cara Leopold II


C.     Leopold III
Leopold III digunakan untuk menentukan bagian apa yang terdapat dibagian bawah dan apakah bagian bawah anak sudah atau belum terpegang oleh pintu atas panggul.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara berikut;
1.      Sikap pasien    : Tidur telentang ( dorsal recumbent )
2.      Sikap Perawat : Berdiri disebelah kanan pasien dan menghadap muka pasien
3.      Langkah-langkahnya;
a.       Perawat menahan fundus uteri dengan tangan kiri.
b.      Memeganggi bagian yang paling depan dengan ibu jari dan jari-jari lain tangan kanan dalam bentuk mangkok, dan perlahan-lahan digerakkan terhadap panggul.

                  Gambar 4
             Cara Leopold III

D.    Leopold IV
            Leopold IV digunakan untuk menentukan apa yang menjadi bagian bawah dan seberapa masuknya bagian bawah tersebut kedalam rongga panggul.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara berikut;
1.      Sikap pasien          : Tidur telentang ( dorsal recumbent )
2.      Sikap Perawat       : Berdiri disebelah kanan pasien dan menghadap muka pasien
3.      Langkah-langkahnya;
a.       Perawatan menempatkan jari-jari tangan dengan tertutup sebelah kiri dan kanan pada segmen bawah uterus
b.      Menekan perlahan-lahan arah yang tegak lurus pada bidang pintu atas panggul, jangan lurus kebelakang.
c.       Dan menarik kesimpulan
d.      Perasat ini tidak dilakukan bila kepala janin sudah masuk pintu atas panggul.
 
                                        Gambar 5
                                   Cara Leopold IV





BAB II
MENGHITUNG USIA KEHAMILAN
DAN BERAT BADAN JANIN

A.    Rumus McDonald
Pengukuran tinggi fundus uteri diatas simphisis pubis digunakan sebagai salah satu indikator untuk menentukan kemajuan pertumbuhan janin. Pengukuran tinggi fundus uteri juga dapat dijadikan perkiraan usia kehamilan.


Text Box: Rumus McDonald
Usia kehamilan (hitungan bln) = Tinggi fundus uteri (cm) x 2/7 (atau +3.5)
Usia kehamilan (hitungan mgg) = Tinggi fundus uteri (cm) x 8/7
 





B.     Rumus Lohnson
Rumus Lohnson digunakan untuk menghitung Taksiran Berat Badan Janin atau TBBJ.
Jika kepala belum masuk PAP maka rumusnya:


Text Box: Berat Janin = (tinggi fundus uteri – 12 ) x 155 gram
 


Jika kepala sudah masuk PAP maka rumusnya:


Text Box: Berat Janin = (tinggi fundus uteri – 11 ) x 155 gram
 





Referensi
R.S St. Carolus Jakarta,  Pendidikan Perawat-Bidan St.Yoseph , Buku Praktek Perawatan Kebidanan,1975, Jakarta

Uliyah Musrifatul, A.Aziz Alimul Hidayat, Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan, 2006. Penerbit Salemba Medika. Jakarta

http://kedokteran.unsoed.ac.id/Files/Kuliah/modul%20/Modul%20A3%20-%20Pemeriksaan%20Leopold.pdf