BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Masyarakat sudah tidak asing dengan
penyakit hipertensi, pada umumnya masyarakat lebih mengenal hipertensi dengan
istilah tekanan darah tinggi. Banyak presepsi yang timbul dimasyarakat mengenai
hipertensi, ada yang mengatakan bahwa hipertensi diturunkan dari orang tua yang
juga mengidap hipertensi dalam arti hipertensi adalah penyakit keturunan.
Tidak
jarang tekanan darah tinggi juga menyebabkan gangguan ginjal. Banyak faktor
penghambat yang mempengaruhi seperti kurang pengetahuan tentang hipertensi baik
dari pengertian, klasifikasi, tanda dan gejala, sebab akibat, komplikasi dan
juga perawatannya.
Ada
banyak penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada
jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Inilah yang menegaskan bahwa pentingnya
pemberian asuhan keperawatan pada pasien hipertensi juga sangat diperlukan
untuk melakukan implementasi yang benar pada pasien hipertensi.
Diharapkan
dengan dibuatnya makalah tentang asuhan keperawatan pasien dengan gangguan
hipertensi ini dapat memberi asuhan keperawatan yang tepat dan benar bagi
penderita hipertensi dan dapat mengurangi angka kesakitan serta kematian
karena hipertensi dalam masyarakat.
B.
TUJUAN
PENULISAN
1. Tulisan ini
bertujuan agar kami dan teman-teman mahasiswa keperawatan mampu memahami
bagaimana perjalanan penyakit hipertensi serta asuhan keperawatan tentang
hipertensi.
2.
Memaparkan konsep penyakit
hipertensi yang meliputi definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis,
patofisiologi, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis,
keperawatan dan diet untuk penderita hipertensi.
3.
Memahami asuhan keperawatan pada
pasien hipertensi dengan metodologi asuhan keperawatan yang benar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
Hipertensi adalah tekanan yang lebih
tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan
sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal, tinggi, sampai
hipertensi maligna.
(Joint
National Commitee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure
/JNC)
Hipertensi merupakan
keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik
lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan perubahan pada pembuluh
darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah. (Arif Muttaqin, 2009)
Hipertensi dapat
didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di
atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi manula,
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik di atas 160 mmHg dan tekanan
diastolik di atas 90 mmHg. (Bruner dan Suddarth ,2001)
Menurut kelompok kami hipertensi
adalah keadaan tekanan sistolik yang meningkat mencapai 140 mmHg dan diastolik
mencapai 90 mmHg dengan rujukan nilai normal tekanan darah seharusnya 120 mmHg
untuk sistolik dan 60 mmHg untuk diastolik.
B.
KLASIFIKASI
Ada banyak pengklasifikasian hipertensi menurut para ahli, dan
kami
direkomendasikan untuk menggunakan klasifikasi menurut JNC .
Berikut adalah klasifikasi menurut JNC ( 2003 ) ;
|
Klasifikasi
|
Tekanan Sistolik (mmHg)
|
Tekanan Diastolik (mmHg)
|
|
Normal
|
<120
|
<80
|
|
Prehipertensi
|
120-139
|
80-89
|
|
Hipertensi stage I
|
140-150
|
90-99
|
|
Hipertensi stage II
|
>150
|
>100
|
(Arif Muttaqin, 2009).
C.
ETIOLOGI
1. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Hipertensi primer/esensial
adalah hipertensi yang tidak atau belum di ketahui penyebabnya, dan disebut
juga hipertensi idiopaik. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti faktor
keturunan, lingkungan, peningkatan aktivitas susunan saraf simpatis, defek
dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca dalam intraselular, dan faktor - faktor
yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, serta merokok.
b. Hipertensi sekunder penyebab spesifiknya
diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular
renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing, feokromositomo, koarktasio
aorta, dan hipertensi yang berhubung dengan kehamilan.
2. Etiologi hipertensi juga dibagi dalam
beberapa bagian menurut usia, kelamin,
ras, pola hidup, dan
riwayat diabetes meilitus.
a.
Usia
Insiden hipertensi semakin meningkat dengan meningkatnya
usia. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas menaikan
insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur.
b.
Kelamin
Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi dari pada
wanita, namun p-ada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita muai
meningkat, sehingga pada usia diatas 65 tahun insiden pada wanita lebih tinggi.
c.
Pola Hidup
Faktor pendidikan, penghasilan, dan faktor pola gidup
telah diteliti, penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah, dan kehidupan
yang penuh stres tampaknya berhubungan dengan insiden hipertensi yang lebih
tinggi. Dan obesitas dipandang sebagai faktor resiko utama. Merokok juga
dipandang sebagai faktor resiko tinggi.
d.
Diabetes Melitus
Secara statistik nyata ada hubungan antara hipertensi dan
diabetes melitus. Penyebab utama pada kematian pasien diabetes melitus adalah
penyakit kardiovaskuler termasuk hipertensi.
(dr.Jan Tambayong, 2000)
D.
PATOFISIOLOGIS
Terjadinya hipertensi dapat disebabkan
oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Curah jantung dan tahanan perifer
Mempertahankan tekanan
darah yang normal tergantung kepada keseimbangan antara curah jantung dan
tahanan vaskular perifer. Sebagian terbesar pasien dengan hipertensi esensial
mempunyai curah jantung yang normal, namun tahanan perifernya meningkat.
Tahanan perifer ditentukan bukan oleh arteri yang besar atau kapiler, melainkan
oleh arteriola kecil, yang dindingnya mengandung sel otot polos. Kontraksi sel
otot polos diduga berkaitan dengan peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler
Kontriksi otot polos
berlangsung lama diduga menginduksi perubahan sruktural dengan penebalan
dinding pembuluh darah arteriola, mungkin dimediasi oleh angiotensin, dan dapat
mengakibatkan peningkatan tahanan perifer yang irreversible. Pada hipertensi
yang sangat dini, tahanan perifer tidak meningkat dan peningkatan tekanan darah
disebabkan oleh meningkatnya curah jantung, yang berkaitan dengan overaktivitas
simpatis. Peningkatan tahanan peifer yang terjadi kemungkinan merupakan
kompensasi untuk mencegah agar peningkatan tekanan tidak disebarluaskan ke
jaringan pembuluh darah kapiler, yang akan dapat mengganggu homeostasis sel
secara substansial.
2. Sistem renin-angiotensin
Sistem renin-angiotensin mungkin
merupakan sistem endokrin yang paling penting dalam mengontrol tekanan darah.
Renin disekresi dari aparat juxtaglomerular ginjal sebagai jawaban terhadap
kurang perfusi glomerular atau kurang asupan garam. Ia juga dilepas sebagai
jawaban terhadap stimulasi dan sistem saraf simpatis
Renin bertanggung jawab mengkonversi substrat renin
(angiotensinogen) menjadi angotensin II di paru-paru oleh angiotensin
converting enzyme (ACE). Angiotensin II merupakan vasokontriktor yang kuat dan
mengakibatkan peningkatan tekanan darah (Lumbantobing,
2008).
3. Sistem saraf otonom
Stimulasi sistem saraf otonom dapat
menyebabkan konstriksi arteriola dan dilatasi arteriola. Jadi sistem saraf
otonom mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan tekanan darah yang
normal. Ia juga mempunyai peranan penting dalam memediasi perubahan yang
berlangsung singkat pada tekanan darah sebagai jawaban terhadap stres dan kerja
fisik.
4. Peptida atrium natriuretik (atrial natriuretic
peptide/ANP)
ANP merupakan hormon
yang diproduksi oleh atrium jantung sebagai jawaban terhadap peningkatan volum
darah. Efeknya ialah meningkatkan ekskresi garam dan air dari ginjal, jadi
sebagai semacam diuretik alamiah. Gangguan pada sistem ini dapat mengakibatkan
retensi cairan dan hipertensi.
Berikut kami cantumkan perjalanan penyakit
hipertensi:
sebagian besar manifestasi klinis timbul setelah mengalami
hipertensi bertahun-tahun berupa:
a. nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah
b. penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi
c. ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
d. nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
e. edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler
(Elizabeth J. Corwin, 2000)
a. nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah
b. penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi
c. ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat
d. nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus
e. edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler
(Elizabeth J. Corwin, 2000)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.
Pemeriksaan Fisik
Melakukan pengkajian:
1.
Identitas pasien:
nama, umur, jenis kelamin, suku, pekerjaan
2.
Riwayat
a.
Riwayat kesehatan keluarga
b.
Riwayat penyakit
dahulu
c.
Riwayat penyakit sekarang
d.
Manifestasi klinis
penyakit jantung seperti dyspnea, angina
e.
Kebiasaan sehari-hari:
nutrisi, istirahat, olah raga
f.
Faktor psikologis dan
lingkungan: stes emosional, budaya makan, dan status ekonomi
g.
Faktor risiko
h.
Riwayat alergi
i.
Riwayat pemakaian obat: pil KB, steroid, NSAID
3.
Pemeriksaan fisik
a.
Berat badan dan tinggi
badan.
b.
Mata: pemeriksaan
funduskopi untuk penyempitan retinal arteriol, perdarahan, eksudat dan
papill edema
c.
Leher: JVP, bising
karotis dan pembesaran thyroid
d.
Paru: pernapasan
(irama, frekuensi, jenis suara napas)
e.
Jantung: denyut
jantung, suara jantung, bising jantung. Tekanan darah diukur minimal 2 kali
dengan tenggang waktu 2 menit dalam posisi berbaring atau duduk, dan berdiri
sekurangnya setelah 2 menit. Pengukuran menggunakan yang sesuai, dan sebaiknya
dilakukan pada kedua sisi lengan, dan jika nilainya berbeda maka nilai yang
tertinggi yang diambil.
f.
Abdomen: bising,
pembesaran ginjal
g.
Ekstremitas: lemahnya
atau hilangnya nadi parifer, edema.
h.
Neurologi: tanda
thrombosis cerebral dan perdarahan
4.
Pemeriksaan penunjang
a.
EKG: adanya pembesaran
ventrikel kiri, pembesaran atrium kiri, adanya penyakit jantung koroner atau
aritmia
b.
Hemoglobin/hematokrit:
bukan diagnostik tetapi mengkaji hubngan dari sel-sel terhadap terhadap volume
cairan(viskositas)dan dapat mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti
hiperkogulabilitas, anemia
c.
BUN/kreatinin:
memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal
d.
Glukosa: hiperglikemia
(Diabetes Millitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh
peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi)
e.
Kalium serum:
hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau
menjadi efek samping terapi diuretic
f.
Kalsium serum: peningkatan
kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi
g.
Kolesterol dan
trigliserida serum: peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus
untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler)
h.
Asam urat:
hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor risiko terjadinya
hipertensi
i.
Foto rontgen: adanya
pembesaran jantung, vaskularisasi atau aorta yang melebar
j.
Echocardiogram: tampak
adanya penebalan dinding ventrikel kiri, mungkin juga sudah terjadi dilatasi
dan gangguan fungsi sistolik dan diastolik
(Diklat PJT-RSCM, 2008).
B.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan
untuk klien hipertensi mencakup:
1.
Penurunan curah
jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vaskonstriksi, iskemia
miokard, hipertropi ventricular
2.
Nyeri (sakit kepala)
berhubungan dengan peningkatan tekanan vasculer serebral
3.
Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
(Doenges, dkk. 1999).
C.
Intervensi dan Rasional Tindakan
Rencana asuhan
keperawatan pada pasien dengan hipertensi adalah sebagai berikut:
1.
Penurunan curah
jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia
miokard, hipertropi ventrikelar
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan masalah penurunan curah jantung dapat teratasi dengan kriteria
hasil:
a.
mempertahankan tekanan
darah dalam rentang individu yang dapat diterima
b.
berpartisipasi dalam
aktivitas yang menurunkan tekanan darah atau kerja jantung
c.
memperlihatkan irama
dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Pantau tekanan darah. Ukur pada kedua
tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik
yang akurat.
|
Perbandingan dari tekanan memberikan
gambaran yang lebih langkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler.
Hipertensi berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan
tekanan diastolik sampai 130 mmHg, hasil pengukuran diastolik di atas 130
mmHg dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama, kemudian maligna. Hipertensi
sistolit juga merupakan faktor risiko yang ditentukan untuk penyakit
serebrovaskular dan penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolik 90-115
|
|
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral
dan parifer
|
Denyutan karotis,jugularis, radialis dan
femoralis mungkin teramati/terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun,
mencerminkan efek dari vasokonstriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena
|
|
Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
|
S4 umum terdengar pada pasien
hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium (peningkatan volume/tekanan
atrium). Perkemba-
ngan S3 menunjukkan
hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi. Adanya krakles, mengindikasikan
kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik.
|
|
Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan
masa pengisian kapiler
|
Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa
pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokonstriksi atau
mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung.
|
|
Catat edema umum/tertentu
|
Dapat mengindikasi gagal jantung, kerusakan
ginjal atau vaskular
|
|
Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi
aktivitas/keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal
|
Membantu menurunkan rangsang simpatis
meningkatkan relaksasi
|
|
Pertahankan pembatasan aktivitas, seperti:
istirahat di tempat tidur/kursi, jadwalperiode istirahat tanpa gangguan,
bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
|
Menurunkan stres dan ketegangan yang
mempengaruhi tekanna darah dan perjalanan peyakit hipertensi
|
|
Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman,
seperti: pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur
|
Mengurangi ketidaknyamanan dan dapat
menurunkan rangsang simpatis
|
|
Anjurkan teknik relaksasi, panduan
imajinasi, aktivitas pengalihan
|
Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan
stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan TD
|
|
Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol
takanan darah
|
Respon terhadap terapi obat “stepped” (yang
terdiri dari atas diuretik, inhibitor simpatis dan vasodilator) tergantung
pada individu dan efek sinergis obat. Karena efek samping tersebut, maka
penting untuk menggunakan obat dalam jumlah paling sedikit dan dosis paling
rebdah
|
|
Kolaborasi:
Berikan obat-obat sesuai indikasi, contoh:
Diuretic tiazin, misalnya: kortikosteroid
(diuri), hidroklorotiazid (esidrix/hidroDIURIL), bendroflumentiazid
(Naturetin)
|
Tiazid mungkin digunakan sendiri atau
dicampur dengan obat lain untuk menurunkan TD pada pasien dengan fungsi
ginjal yang relative normal. Diuretic ini memperkuan agen-agen
antihipertensif lain dengan membatasi retensi cairan.
|
|
Berikan pembatasan cairan dan diit natrium
sesuai indikasi
|
Pembatasan ini dapat menangani retensi
cairan respon hipertensif, dengan demikian menurunkan kerja jantung
|
2.
Nyeri (sakit kepala)
berhubungan dengan peningkatan tekan vasculer serebral
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan masalah nyeri teratasi dengan kriteria hasil:
a.
Melaporkan
nyeri/ketidaknyamanan terkontrol
b.
Mengikuti regimen
farmakologi yang diresepkan
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Mempertahankan tirah baring selama fase akut
|
Meminimalkan stimulasi/meningkatkan
relaksasi
|
|
Berikan tindakan nonfarmakologi untuk
menghilangkan sakit kepala, missal: kompres dingin pada dahi, pijat punggung
dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (panduan imajinasi,
distraksi) dan aktivitas waktu senggang
|
Tindakan yang menurunkan tekanan vaskular
serebral
dan yang memperlambat atau memblok
respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
|
|
Hilangkan/minimalkan aktivitas
vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejan saat
BAB, batuk panjang, membungkuk
|
Aktivitas yang meningkatkan vasokonstriksi
menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskularserebral
|
|
Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
|
Pusing dan penglihatan kabur sering
berhubungan dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode
hipotensi postural
|
|
Berikan cairan, makanan lunak, perawatan
mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah
dilakukan untuk menghentikan perdarahan
|
Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung
dan mengganggu menelan atau membutuhkan napas dengan mulut, menimbulkan
stagnasi sekresi oral dan menger membran mukosa
|
|
Kilaborasi:
Berikan sesuai indikasi: analgesik
|
Menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang
sistem saraf simpatis
|
|
Antiansieta, missal lorazepam (ativan),
diazepam (valium)
|
Dapat mengurangi tegangan dan
ketidaknyamanan diperberat oleh stres
|
3.
Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan masalah intoleransi aktivitas teratasi dengan kriteria hasil:
a.
Peningkatan dalam
toleransi aktivitas yang dapat diukur
b.
Menunjukkan penurunan
dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi
c.
Berpartisipasi dalam
aktivitas yang diinginkan/diperlukan
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
|
Kaji respons pasien terhadap aktivitas,
perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali permenit di atas frekuensi
istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktivitas (tekanan
sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan diastolik meningkat 20 mmHg), dispnea
atau nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaphoresis, pusing
atau pingsan
|
Menyebutkan parameter membantu dalam
mengkaji respons fisiologi terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan
indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas
|
|
Instruksikan pasien tentang teknik
penghematan energi, missal: menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir
rambut atau menyikat gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan
|
Teknik menghemat energi mengurangi
penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen
|
|
Berikan dorongan untuk melakukan
aktivitas/perawatan diri terhadap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan
sesuai kebutuhan.
|
Kemajuan aktivitas bertahap mencegah
peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas
kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
|
(Doenges, dkk. 1999)
DAFTAR PUSTAKA
dr.Jan
Tambayong. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Davey,
Patrik. 2005. At A Glance Medicine. Jakarta : Erlangga
Bruner dan Suddarth.
2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8 vol.2. Jakarta:
EGC.
Diklat PJT–RSCM.
2008. Buku Ajar Keperawatan Kardiologi
Dasar Edisi 4. Jakarta: RSCM.
Doenges, Marilynn E.,
dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan Dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Dengan Pasien
Gangguan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika
Corwin, J Elizabeth. 2000. Patofisiologi. Jakarta:
EGC.