Senin, 13 Januari 2014

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I SISTEM KARDIO VASKULER HIPERTENSI




BAB I
PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG
Masyarakat sudah tidak asing dengan penyakit hipertensi, pada umumnya masyarakat lebih mengenal hipertensi dengan istilah tekanan darah tinggi. Banyak presepsi yang timbul dimasyarakat mengenai hipertensi, ada yang mengatakan bahwa hipertensi diturunkan dari orang tua yang juga mengidap hipertensi dalam arti hipertensi adalah penyakit keturunan.
Tidak jarang tekanan darah tinggi juga menyebabkan gangguan ginjal. Banyak faktor penghambat yang mempengaruhi seperti kurang pengetahuan tentang hipertensi baik dari pengertian, klasifikasi, tanda dan gejala, sebab akibat, komplikasi dan juga perawatannya.
Ada banyak penderita hipertensi berakhir pada stroke. Sedangkan sisanya pada jantung, gagal ginjal, dan kebutaan. Inilah yang menegaskan bahwa pentingnya pemberian asuhan keperawatan pada pasien hipertensi juga sangat diperlukan untuk melakukan implementasi yang benar pada pasien hipertensi.
Diharapkan dengan dibuatnya makalah tentang asuhan keperawatan pasien dengan gangguan hipertensi ini dapat memberi asuhan keperawatan yang tepat dan benar bagi penderita hipertensi dan dapat mengurangi angka kesakitan  serta kematian karena hipertensi dalam  masyarakat.

B.           TUJUAN PENULISAN
1.    Tulisan ini bertujuan agar kami dan teman-teman mahasiswa keperawatan mampu memahami bagaimana perjalanan penyakit hipertensi serta asuhan keperawatan tentang hipertensi.
2.  Memaparkan konsep penyakit hipertensi yang meliputi definisi, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan medis, keperawatan dan diet untuk penderita hipertensi.
3.    Memahami asuhan keperawatan pada pasien hipertensi dengan metodologi asuhan keperawatan yang benar.
























BAB II
PEMBAHASAN

A.              PENGERTIAN
Hipertensi adalah tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal, tinggi, sampai hipertensi maligna.
(Joint National Commitee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure /JNC)
Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120 mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan perubahan pada pembuluh darah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya tekanan darah. (Arif Muttaqin, 2009)
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik di atas 160 mmHg dan tekanan diastolik di atas 90 mmHg.  (Bruner dan Suddarth ,2001)
Menurut kelompok kami hipertensi adalah keadaan tekanan sistolik yang meningkat mencapai 140 mmHg dan diastolik mencapai 90 mmHg dengan rujukan nilai normal tekanan darah seharusnya 120 mmHg untuk sistolik dan 60 mmHg untuk diastolik.

B.              KLASIFIKASI
Ada banyak pengklasifikasian hipertensi menurut para ahli, dan kami direkomendasikan untuk menggunakan klasifikasi menurut JNC .
Berikut adalah  klasifikasi menurut JNC ( 2003 ) ;
Klasifikasi
Tekanan Sistolik (mmHg)
Tekanan Diastolik (mmHg)
Normal
<120
<80
Prehipertensi
120-139
80-89
Hipertensi stage I
140-150
90-99
Hipertensi stage II
>150
>100
(Arif Muttaqin, 2009).    

C.            ETIOLOGI
  1. Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Hipertensi primer/esensial adalah hipertensi yang tidak atau belum di ketahui penyebabnya, dan disebut juga hipertensi idiopaik. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti faktor keturunan, lingkungan, peningkatan aktivitas susunan saraf simpatis, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca dalam intraselular, dan faktor - faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, serta merokok.
b. Hipertensi sekunder penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom cushing, feokromositomo, koarktasio aorta, dan hipertensi yang berhubung dengan kehamilan.
2.   Etiologi hipertensi juga dibagi dalam beberapa bagian menurut usia, kelamin,
ras, pola hidup, dan riwayat diabetes meilitus.
a.       Usia
Insiden hipertensi semakin meningkat dengan meningkatnya usia. Hipertensi pada yang berusia kurang dari 35 tahun dengan jelas menaikan insiden penyakit arteri koroner dan kematian prematur.
b.      Kelamin
Pada umumnya insiden pada pria lebih tinggi dari pada wanita, namun p-ada usia pertengahan dan lebih tua, insiden pada wanita muai meningkat, sehingga pada usia diatas 65 tahun insiden pada wanita lebih tinggi.
c.       Pola Hidup
Faktor pendidikan, penghasilan, dan faktor pola gidup telah diteliti, penghasilan rendah, tingkat pendidikan rendah, dan kehidupan yang penuh stres tampaknya berhubungan dengan insiden hipertensi yang lebih tinggi. Dan obesitas dipandang sebagai faktor resiko utama. Merokok juga dipandang sebagai faktor resiko tinggi.
d.      Diabetes Melitus
Secara statistik nyata ada hubungan antara hipertensi dan diabetes melitus. Penyebab utama pada kematian pasien diabetes melitus adalah penyakit kardiovaskuler  termasuk hipertensi.
(dr.Jan Tambayong, 2000)

D.                PATOFISIOLOGIS
Terjadinya hipertensi dapat disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Curah jantung dan tahanan perifer
Mempertahankan tekanan darah yang normal tergantung kepada keseimbangan antara curah jantung dan tahanan vaskular perifer. Sebagian terbesar pasien dengan hipertensi esensial mempunyai curah jantung yang normal, namun tahanan perifernya meningkat. Tahanan perifer ditentukan bukan oleh arteri yang besar atau kapiler, melainkan oleh arteriola kecil, yang dindingnya mengandung sel otot polos. Kontraksi sel otot polos diduga berkaitan dengan peningkatan konsentrasi kalsium intraseluler
Kontriksi otot polos berlangsung lama diduga menginduksi perubahan sruktural dengan penebalan dinding pembuluh darah arteriola, mungkin dimediasi oleh angiotensin, dan dapat mengakibatkan peningkatan tahanan perifer yang irreversible. Pada hipertensi yang sangat dini, tahanan perifer tidak meningkat dan peningkatan tekanan darah disebabkan oleh meningkatnya curah jantung, yang berkaitan dengan overaktivitas simpatis. Peningkatan tahanan peifer yang terjadi kemungkinan merupakan kompensasi untuk mencegah agar peningkatan tekanan tidak disebarluaskan ke jaringan pembuluh darah kapiler, yang akan dapat mengganggu homeostasis sel secara substansial.
2. Sistem renin-angiotensin
Sistem renin-angiotensin mungkin merupakan sistem endokrin yang paling penting dalam mengontrol tekanan darah. Renin disekresi dari aparat juxtaglomerular ginjal sebagai jawaban terhadap kurang perfusi glomerular atau kurang asupan garam. Ia juga dilepas sebagai jawaban terhadap stimulasi dan sistem saraf simpatis
Renin bertanggung jawab mengkonversi substrat renin (angiotensinogen) menjadi angotensin II di paru-paru oleh angiotensin converting enzyme (ACE). Angiotensin II merupakan vasokontriktor yang kuat dan mengakibatkan peningkatan tekanan darah (Lumbantobing, 2008).
3. Sistem saraf otonom
Stimulasi sistem saraf otonom dapat menyebabkan konstriksi arteriola dan dilatasi arteriola. Jadi sistem saraf otonom mempunyai peranan yang penting dalam mempertahankan tekanan darah yang normal. Ia juga mempunyai peranan penting dalam memediasi perubahan yang berlangsung singkat pada tekanan darah sebagai jawaban terhadap stres dan kerja fisik.
4. Peptida atrium natriuretik (atrial natriuretic peptide/ANP)
ANP merupakan hormon yang diproduksi oleh atrium jantung sebagai jawaban terhadap peningkatan volum darah. Efeknya ialah meningkatkan ekskresi garam dan air dari ginjal, jadi sebagai semacam diuretik alamiah. Gangguan pada sistem ini dapat mengakibatkan retensi cairan dan hipertensi.













Berikut kami cantumkan perjalanan penyakit hipertensi:

sebagian besar manifestasi klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa: 
      a.  nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah 
      b. penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi 
      c. ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat 
      d. nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus 
      e. edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler 
       (Elizabeth J. Corwin, 2000)




















BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A.            Pemeriksaan Fisik
Melakukan pengkajian:
1.      Identitas pasien: nama, umur, jenis kelamin, suku, pekerjaan
2.       Riwayat
a.        Riwayat kesehatan keluarga
b.       Riwayat penyakit dahulu
c.        Riwayat penyakit sekarang
d.       Manifestasi klinis penyakit jantung seperti dyspnea, angina
e.        Kebiasaan sehari-hari: nutrisi, istirahat, olah raga
f.        Faktor psikologis dan lingkungan: stes emosional, budaya makan, dan status ekonomi
g.        Faktor risiko
h.         Riwayat alergi
i.           Riwayat pemakaian obat: pil KB, steroid, NSAID
3.       Pemeriksaan fisik
a.       Berat badan dan tinggi badan.
b.      Mata: pemeriksaan funduskopi untuk penyempitan retinal arteriol, perdarahan, eksudat dan papill edema
c.        Leher: JVP, bising karotis dan pembesaran thyroid
d.      Paru: pernapasan (irama, frekuensi, jenis suara napas)
e.       Jantung: denyut jantung, suara jantung, bising jantung. Tekanan darah diukur minimal 2 kali dengan tenggang waktu 2 menit dalam posisi berbaring atau duduk, dan berdiri sekurangnya setelah 2 menit. Pengukuran menggunakan yang sesuai, dan sebaiknya dilakukan pada kedua sisi lengan, dan jika nilainya berbeda maka nilai yang tertinggi yang diambil.
f.        Abdomen: bising, pembesaran ginjal
g.       Ekstremitas: lemahnya atau hilangnya nadi parifer, edema.
h.       Neurologi: tanda thrombosis cerebral dan perdarahan
4.      Pemeriksaan penunjang
a.        EKG: adanya pembesaran ventrikel kiri, pembesaran atrium kiri, adanya penyakit jantung koroner atau aritmia
b.      Hemoglobin/hematokrit: bukan diagnostik tetapi mengkaji hubngan dari sel-sel terhadap terhadap volume cairan(viskositas)dan dapat mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti hiperkogulabilitas, anemia
c.        BUN/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi/fungsi ginjal
d.      Glukosa: hiperglikemia (Diabetes Millitus adalah pencetus hipertensi) dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi)
e.       Kalium serum: hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretic
f.        Kalsium serum: peningkatan kadar kalsium serum dapat meningkatkan hipertensi
g.       Kolesterol dan trigliserida serum: peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek kardiovaskuler)
h.       Asam urat: hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai faktor risiko terjadinya hipertensi
i.         Foto rontgen: adanya pembesaran jantung, vaskularisasi atau aorta yang melebar
j.        Echocardiogram: tampak adanya penebalan dinding ventrikel kiri, mungkin juga sudah terjadi dilatasi dan gangguan fungsi sistolik dan diastolik
(Diklat PJT-RSCM, 2008).


B.            Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan untuk klien hipertensi mencakup:
1.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vaskonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular
2.      Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vasculer serebral
3.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (Doenges, dkk. 1999).
C.             Intervensi dan Rasional Tindakan
Rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan hipertensi adalah sebagai berikut:
1.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikelar
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah penurunan curah jantung dapat teratasi dengan kriteria hasil:
a.       mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima
b.      berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah atau kerja jantung
c.        memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien
INTERVENSI
RASIONAL
Pantau tekanan darah. Ukur pada kedua tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.
Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih langkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler. Hipertensi berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai peningkatan tekanan diastolik sampai 130 mmHg, hasil pengukuran diastolik di atas 130 mmHg dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama, kemudian maligna. Hipertensi sistolit juga merupakan faktor risiko yang ditentukan untuk penyakit serebrovaskular dan penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolik 90-115
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan parifer
Denyutan karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati/terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokonstriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena
Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
Sumum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium (peningkatan volume/tekanan atrium). Perkemba-
 ngan S3 menunjukkan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi. Adanya krakles, mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik.
Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler
Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokonstriksi atau mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung.
Catat edema umum/tertentu
Dapat mengindikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskular
Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal
Membantu menurunkan rangsang simpatis meningkatkan relaksasi
Pertahankan pembatasan aktivitas, seperti: istirahat di tempat tidur/kursi, jadwalperiode istirahat tanpa gangguan, bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
Menurunkan stres dan ketegangan yang mempengaruhi tekanna darah dan perjalanan peyakit hipertensi
Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman, seperti: pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur
Mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis
Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan TD
Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol takanan darah
Respon terhadap terapi obat “stepped” (yang terdiri dari atas diuretik, inhibitor simpatis dan vasodilator) tergantung pada individu dan efek sinergis obat. Karena efek samping tersebut, maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah paling sedikit dan dosis paling rebdah
Kolaborasi:
Berikan obat-obat sesuai indikasi, contoh:
Diuretic tiazin, misalnya: kortikosteroid (diuri), hidroklorotiazid (esidrix/hidroDIURIL), bendroflumentiazid (Naturetin)
Tiazid mungkin digunakan sendiri atau dicampur dengan obat lain untuk menurunkan TD pada pasien dengan fungsi ginjal yang relative normal. Diuretic ini memperkuan agen-agen antihipertensif lain dengan membatasi retensi cairan.
Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan respon hipertensif, dengan demikian menurunkan kerja jantung

2.       Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekan vasculer serebral
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan masalah nyeri teratasi dengan kriteria hasil:
a.       Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan terkontrol
b.      Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan
INTERVENSI
RASIONAL
Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, missal: kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (panduan imajinasi, distraksi) dan aktivitas waktu senggang
Tindakan yang menurunkan tekanan vaskular serebral
 dan yang memperlambat atau memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk
Aktivitas yang meningkatkan vasokonstriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskularserebral
Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural
Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah dilakukan untuk menghentikan perdarahan
Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung dan mengganggu menelan atau membutuhkan napas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan menger membran mukosa
Kilaborasi:
Berikan sesuai indikasi: analgesik
Menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis
Antiansieta, missal lorazepam (ativan), diazepam (valium)
Dapat mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan diperberat oleh stres

3.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan masalah intoleransi aktivitas teratasi dengan kriteria hasil:
a.       Peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur
b.      Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologi
c.       Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji respons pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali permenit di atas frekuensi istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktivitas (tekanan sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan diastolik meningkat 20 mmHg), dispnea atau nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaphoresis, pusing atau pingsan
Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas
Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi, missal: menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut atau menyikat gigi, melakukan aktivitas dengan perlahan
Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri terhadap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
(Doenges, dkk. 1999)














DAFTAR PUSTAKA

dr.Jan Tambayong. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC

Davey, Patrik. 2005. At A Glance Medicine. Jakarta : Erlangga

Bruner dan Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8 vol.2. Jakarta: EGC.

Diklat  PJT–RSCM. 2008. Buku Ajar Keperawatan Kardiologi Dasar Edisi 4. Jakarta: RSCM.

Doenges, Marilynn E., dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Dengan Pasien Gangguan Kardiovaskuler. Jakarta: Salemba Medika

Corwin, J Elizabeth. 2000. Patofisiologi. Jakarta: EGC.