Jumat, 26 April 2013

Jurnal Kasus Disleksia dan contoh kasus


I.                       KASUS
Jika ditanya rute jalan dari rumahnya di Bintaro menuju studio Trans TV, Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sundjojo atau Deddy Corbuzier, 35 tahun, tak bisa menjelaskannya. Bahkan, ia tak ingat rute jalan dari rumahnya ke rumah mertuanya. "Apalagi nama Anda, 100 persen saya tidak tahu," ujarnya kepada Heru Triyono dan fotografer Yoseph Arkian dari Tempo, yang mengikutinya nyaris separuh hari, Selasa lalu. Nama bintang tamu di acara Hitam Putih pun selalu dituliskan di papan putih di bibir panggung agar ia bisa melihatnya. Kelupaan itu pernah terjadi saat bintang tamunya komposer ternama Addie M.S.
Itu terjadi karena Deddy mengidap disleksia, semacam gangguan otak, di mana pengidapnya kerap tak bisa menghafal, membaca, juga menulis. Dalam kasus Deddy, otak kirinya yang tak berfungsi baik. Namun demikian, Deddy mengaku memiliki intelligence quotient (IQ) 160. Jika benar, itu artinya kecerdasan Deddy setara dengan Albert Einstein.
Disleksia ini membuat Deddy sempat tak naik kelas saat SD. "Saya tidak naik kelas, tapi ayah tidak marah,” katanya. Padahal, saat itu ayahnya tidak tahu dia mengidap disleksia. Itulah yang membuat Deddy semakin kagum pada ayahnya. Ia baru menyadari dirinya mengidap disleksia saat SMA. Ia sering bingung karena sering lupa. Yang pasti ia tidak bisa ingat nama orang, apalagi nama jalan. Untungnya, ia selalu diantar sopir sejak kecil. Karena disleksia ini pula, Deddy memilih kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Atmajaya Jakarta selulus dari SMA Santa Theresia. "Saya ingin menerapi diri sendiri,” tuturnya.
Kemungkinan, kata Deddy, karena disleksia ini ia menjadi pribadi yang blakblakan dalam berbicara sehingga dia terkesan tidak menyenangkan. Ia pun mengakui tidak memiliki teman dekat dari dulu, kecuali sang istri. Ia juga tidak pernah bergaul dengan teman-temannya. "Saya ini kuper (kurang pergaulan) dan seperti antisosial” katanya.




II.                           LATAR BELAKANG
Umumnya penderita Disleksia itu cenderung terfokus pada ketidakmampuan untuk membaca dan menulis. Namun hal ini tidak mempengaruhi perkembangan kemampuan standard yang lain seperti kecerdasan dan kemampuan menganalisa suatu permasalahan.
Penderita Disleksia umumnya secara fisik tidak terlihat sebagai penderita. Akan tetapi penderita Disleksia akan sangat lemah dalam membaca , menulis bahkan mengurutkan segala sesuatu baik itu urutan dari atas ke bawah , dari kanan ke kiri dan sebagainya. Dalam kondisi penderita lainnya , Disleksia juga tak mampu menjawab pertanyaan uraian panjang lebar.
Walaupun mempunyai IQ yang tinggi , namun itu tidak menjamin kekuatan atau kemampuan seorang penderita Disleksia untuk memahami , mendengarkan atau bahkan mengingat semua pelajaran yang diterima baik secara formal maupun nonformal.
Anak-anak Disleksia yang mengalami kesulitan belajar, akan tampak jelas pada kinerja akademik atau sistem dan pola belajarnya.
Namun keadaan ini semakin di dukung dengan tingkah aneh yang ditunjukkan mereka seperti sering menyendiri dan suka berteriak.









III.                    TEORI YANG DIPAKAI

Teori Hipotesis Evolusi
Teori ini berpendapat bahwa membaca adalah suatu tindakan yang tidak wajar, dan dilaksanakan oleh manusia untuk waktu yang sangat singkat dalam sejarah evolusi kita. Ini telah kurang dari seratus tahun bahwa masyarakat paling barat dipromosikan membaca oleh populasi massa dan karenanya kekuatan yang membentuk perilaku kita telah lemah.

Teori Hipotesis fonologi
Fonologis mengendalikan bahwa penderita disleksia memiliki penurunan khusus dalam representasi, penyimpanan dan / atau pengambilan suara pidato. Ini menjelaskan gangguan dyslexics 'membaca atas dasar bahwa belajar membaca sistem abjad membutuhkan pembelajaran korespondensi grafem / fonem, yaitu korespondensi antara huruf dan suara konstituen berbicara.

Teori Visual
Teori visual yang mencerminkan tradisi lain berdiri lama dalam studi disleksia, yang mempertimbangkan sebagai tunanetra menimbulkan kesulitan dengan pengolahan huruf dan kata pada halaman teks. Ini mungkin mengambil bentuk fiksasi teropong tidak stabil, vergence miskin, atau berjejal visual meningkat. Teori visual tidak mengecualikan defisit fonologis, tetapi menekankan kontribusi visual untuk masalah membaca, setidaknya dalam beberapa individu disleksia.



Teori Cerebellar
Teori-teori berikut ini tidak harus dilihat sebagai saingan, tetapi dipandang sebagai teori mencoba menjelaskan penyebab serangkaian gejala yang sama dari berbagai perspektif penelitian dan latar belakang.

Teori Magnocellular
Teori ini berpendapat bahwa membaca merupakan suatu tindakan tidak wajar, dan dilakukan oleh manusia untuk jangka waktu yang sangat singkat dalam sejarah evolusioner kita (Dalby, 1986). Telah kurang dari seratus tahun yang paling barat dipromosikan masyarakat membaca oleh karena itu populasi massa dan kekuatan yang membentuk perilaku kita telah lemah. Banyak daerah di dunia masih tidak memiliki akses untuk membaca bagi mayoritas penduduk. Tidak ada bukti bahwa "patologi" mendasari disleksia tetapi banyak bukti untuk variasi atau perbedaan otak. Ini adalah perbedaan-perbedaan penting yang dikenakan pajak dengan tugas buatan membaca.

 Fonologi teori defisit
Ada teori pemersatu yang mencoba untuk mengintegrasikan semua temuan yang disebutkan di atas. Sebuah generalisasi teori visual, teori magnocellular dalil-dalil bahwa magnocellular disfungsi tidak terbatas pada jalur visual tetapi umum untuk semua modalitas (visual dan pendengaran serta taktil




IV.                       PEMBAHASAN
Disleksia berasal dari kata Yunani yaitu “dys” yang berarti kesulitan dan “leksia” yang berarti kata-kata. Dengan kata lain, disleksia berarti kesulitan dalam mengolah kata-kata. Terdapat dua macam disleksia, yaitu developmental dyslexia dan acquired dyslexia. Developmental Dyslexia merupakan bawaan sejak lahir dan karena faktor genetis atau keturunan. Penyandang disleksia akan membawa kelainan ini seumur hidupnya atau tidak dapat disembuhkan. Dan acquired dyslexia didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca. Disleksia biasanya terjadi pada anak-anak dengan daya penglihatan dan kecerdasan yang normal. Anak-anak dengan dyslexia biasanya dapat berbicara dengan normal, tetapi memiliki kesulitan dalam menginterpretasikan “spoken language” dan tulisan.
Disleksia cenderung diturunkan dan lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki.
Gangguan disleksia ini bisa dikenali ciri - cirinya agar bisa melakukan pencegahan dini. Di bawah ini mungkin hanya beberapa ciri - cirinya.
1) Mengalami suatu kelambatan bicara bila dibandingkan dengan teman seusianya dan tidak dapat mengucapkan kata - kata dengan secara benar.
2) Lambat dalam mengenali alfabet, angka, hari, bulan, warna, bentuk, dan informasi mendasar lainnya. Serta mengalami kesulitan dalam menyusun huruf - huruf pada kata.
3) Sulit menyuarakan bunyi dan memadukannya.
4) Sulit mengeja dengan benar
5) Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah dihalaman berikutnya
6) Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca
7) Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata
8) Rancu dengan kata - kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi
9) Bingung mau memakai tangan yang mana untuk menulis
10) Menulis angka dan huruf dengan hasil yang sangat kurang baik

Penanganan
1.      Memberikan pendidikan khusus kepada anak yang dicurigai mengidap disleksia ini, agar pendidikan yang diberikan sesuai dengan kemampuan anak.
2.      Memanfaatkan visual dan taktil anak untuk mengingat huruf sehingga anak menjadi mudah mengerti.
3.      Bantu anak menemukan kepercayaan dirinya sehingga anak tidak putus asa dan merasa ragu terhadap dirinya sendiri. Rasa percaya diri membuat anak menjadi yakin untuk menggali potensi dan kemampuan dirinya.
4.      Membiarkan anak berkembang dengan imaginasinya namun tetap dalam pengawasan orang tua.
5.      Selalu dukung anak dan berikan apresiassi dari setiap hal positif yang ditunjukannya, hal ini dapat meningkatkan keinginan anak untuk lepas dari beban dan bangkit untuk belajar.



V.                   KESIMPULAN
Pada dasarnya dari contoh kasus yang kami ambil, disleksia bisa disembuhkan dengan penanganan khusus. Orang tua menjadi dasar atau kekuatan utama agar anak tidak terpuruk dan terus rapuh karena disleksia.
Di perlukan kesabaran dan ketekunan dalam mengasuh anak-anak disleksia, karna pada dasarnya pengubahan pola pikir anak-anak penderita disleksia ini memang di butuhkan waktu lama.
Selalu dukung kreativitas mereka, akan tetapi perlu tetap diadakan pengawasan terhadap kegiatan-kegiatan mereka. Jangan pernah menganggap anak bodoh dan lamban dalam melakukan apapun. Bantulah anak menemukan keunggulan diri, agar bisa merasa bangga dan tidak pesimis terhadap hambatan yang saat ini sedang diatasi.
Penyakit disleksia bukanlah penyakit yang menular atau mematikan jadi diharapkan kepada setiap pihak yang salah satu anggota keluarganya mengalami disleksia tidak menjadikan keadaan ini menjadi suatu pembatas sosial.


VI.        Pelajaran yang ditarik kelompok

Dari seluruh faktor yang menyebabkan terjadinya disleksia atau kesulitan membaca yang paling penting dalam menangani masalah ini adalah dukungan dari orang-orang sekitar. Setiap masalah yang terjadi bukan tidak mungkin bisa disembuhkan asalkan ada kemauan yang keras. Para penderita Disleksia atau penderita kesulitan belajar yang lainnya memilki kekurangan dalam belajar tapi bukan berarti mereka bodoh oleh karena itu kita tidak boleh membeda-bedakan tapi kita harus memberi motivasi. Sebagai Seorang yang dekat dengan mereka seharusnya bisa mengenali dan mengidentifikasi karakteristik kemampuan yang terjadi di anak tersebut. Inilah kewajiban kita seseorang yang dekat mereka  sekaligus faktor yang dapat menentukan keberhasilan penanganan malah belajar.