I.
KASUS
Jika
ditanya rute jalan dari rumahnya di Bintaro menuju studio Trans TV, Deodatus
Andreas Deddy Cahyadi Sundjojo atau Deddy Corbuzier, 35 tahun, tak bisa
menjelaskannya. Bahkan, ia tak ingat rute jalan dari rumahnya ke rumah
mertuanya. "Apalagi nama Anda, 100 persen saya tidak tahu," ujarnya
kepada Heru Triyono dan fotografer Yoseph Arkian dari Tempo, yang
mengikutinya nyaris separuh hari, Selasa lalu. Nama bintang tamu di acara Hitam
Putih pun selalu dituliskan di papan putih di bibir panggung agar ia bisa
melihatnya. Kelupaan itu pernah terjadi saat bintang tamunya komposer ternama
Addie M.S.
Itu
terjadi karena Deddy mengidap disleksia, semacam gangguan otak, di mana pengidapnya
kerap tak bisa menghafal, membaca, juga menulis. Dalam kasus Deddy, otak
kirinya yang tak berfungsi baik. Namun demikian, Deddy mengaku memiliki intelligence
quotient (IQ) 160. Jika benar, itu artinya kecerdasan Deddy setara dengan
Albert Einstein.
Disleksia
ini membuat Deddy sempat tak naik kelas saat SD. "Saya tidak naik kelas,
tapi ayah tidak marah,” katanya. Padahal, saat itu ayahnya tidak tahu dia
mengidap disleksia. Itulah yang membuat Deddy semakin kagum pada ayahnya. Ia
baru menyadari dirinya mengidap disleksia saat SMA. Ia sering bingung karena
sering lupa. Yang pasti ia tidak bisa ingat nama orang, apalagi nama jalan.
Untungnya, ia selalu diantar sopir sejak kecil. Karena disleksia ini pula,
Deddy memilih kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Atmajaya Jakarta selulus
dari SMA Santa Theresia. "Saya ingin menerapi diri sendiri,” tuturnya.
Kemungkinan,
kata Deddy, karena disleksia ini ia menjadi pribadi yang blakblakan dalam
berbicara sehingga dia terkesan tidak menyenangkan. Ia pun mengakui tidak
memiliki teman dekat dari dulu, kecuali sang istri. Ia juga tidak pernah
bergaul dengan teman-temannya. "Saya ini kuper (kurang pergaulan) dan
seperti antisosial” katanya.
II.
LATAR
BELAKANG
Umumnya
penderita Disleksia itu cenderung terfokus pada ketidakmampuan untuk membaca
dan menulis. Namun hal ini tidak mempengaruhi perkembangan kemampuan standard
yang lain seperti kecerdasan dan kemampuan menganalisa suatu permasalahan.
Penderita
Disleksia umumnya secara fisik tidak terlihat sebagai penderita. Akan tetapi
penderita Disleksia akan sangat lemah dalam membaca , menulis bahkan
mengurutkan segala sesuatu baik itu urutan dari atas ke bawah , dari kanan ke
kiri dan sebagainya. Dalam kondisi penderita lainnya , Disleksia juga tak mampu
menjawab pertanyaan uraian panjang lebar.
Walaupun
mempunyai IQ yang tinggi , namun itu tidak menjamin kekuatan atau kemampuan
seorang penderita Disleksia untuk memahami , mendengarkan atau bahkan mengingat
semua pelajaran yang diterima baik secara formal maupun nonformal.
Anak-anak
Disleksia yang mengalami kesulitan belajar, akan tampak jelas pada kinerja
akademik atau sistem dan pola belajarnya.
Namun
keadaan ini semakin di dukung dengan tingkah aneh yang ditunjukkan mereka
seperti sering menyendiri dan suka berteriak.
III.
TEORI
YANG DIPAKAI
Teori
Hipotesis Evolusi
Teori ini berpendapat bahwa membaca
adalah suatu tindakan yang tidak wajar, dan dilaksanakan oleh manusia untuk
waktu yang sangat singkat dalam sejarah evolusi kita. Ini telah kurang dari
seratus tahun bahwa masyarakat paling barat dipromosikan membaca oleh populasi
massa dan karenanya kekuatan yang membentuk perilaku kita telah lemah.
Teori
Hipotesis fonologi
Fonologis mengendalikan bahwa
penderita disleksia memiliki penurunan khusus dalam representasi, penyimpanan
dan / atau pengambilan suara pidato. Ini menjelaskan gangguan dyslexics
'membaca atas dasar bahwa belajar membaca sistem abjad membutuhkan pembelajaran
korespondensi grafem / fonem, yaitu korespondensi antara huruf dan suara
konstituen berbicara.
Teori
Visual
Teori visual yang mencerminkan
tradisi lain berdiri lama dalam studi disleksia, yang mempertimbangkan sebagai tunanetra
menimbulkan kesulitan dengan pengolahan huruf dan kata pada halaman teks. Ini
mungkin mengambil bentuk fiksasi teropong tidak stabil, vergence miskin, atau
berjejal visual meningkat. Teori visual tidak mengecualikan defisit
fonologis, tetapi menekankan kontribusi visual untuk masalah membaca,
setidaknya dalam beberapa individu disleksia.
Teori
Cerebellar
Teori-teori berikut ini tidak harus dilihat sebagai
saingan, tetapi dipandang sebagai teori mencoba menjelaskan penyebab
serangkaian gejala yang sama dari berbagai perspektif penelitian dan latar
belakang.
Teori
Magnocellular
Teori ini berpendapat bahwa membaca
merupakan suatu tindakan tidak wajar, dan dilakukan oleh manusia untuk jangka
waktu yang sangat singkat dalam sejarah evolusioner kita (Dalby, 1986). Telah
kurang dari seratus tahun yang paling barat dipromosikan masyarakat membaca
oleh karena itu populasi massa dan kekuatan yang membentuk perilaku kita telah
lemah. Banyak daerah di dunia masih tidak memiliki akses untuk membaca bagi
mayoritas penduduk. Tidak ada bukti bahwa "patologi" mendasari
disleksia tetapi banyak bukti untuk variasi atau perbedaan otak. Ini adalah
perbedaan-perbedaan penting yang dikenakan pajak dengan tugas buatan membaca.
Fonologi teori defisit
Ada teori pemersatu yang mencoba
untuk mengintegrasikan semua temuan yang disebutkan di atas. Sebuah generalisasi
teori visual, teori magnocellular dalil-dalil bahwa magnocellular disfungsi
tidak terbatas pada jalur visual tetapi umum untuk semua modalitas (visual dan
pendengaran serta taktil
IV.
PEMBAHASAN
Disleksia berasal dari kata Yunani
yaitu “dys” yang berarti kesulitan dan “leksia” yang berarti kata-kata. Dengan
kata lain, disleksia berarti kesulitan dalam mengolah kata-kata. Terdapat dua
macam disleksia, yaitu developmental dyslexia dan acquired
dyslexia. Developmental Dyslexia merupakan bawaan sejak lahir dan
karena faktor genetis atau keturunan. Penyandang disleksia akan membawa
kelainan ini seumur hidupnya atau tidak dapat disembuhkan. Dan acquired
dyslexia didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca. Disleksia biasanya terjadi pada
anak-anak dengan daya penglihatan dan kecerdasan yang normal. Anak-anak dengan dyslexia
biasanya dapat berbicara dengan normal, tetapi memiliki kesulitan dalam
menginterpretasikan “spoken language” dan tulisan.
Disleksia cenderung
diturunkan dan lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki.
Gangguan
disleksia ini bisa dikenali ciri - cirinya agar bisa melakukan pencegahan dini.
Di bawah ini mungkin hanya beberapa ciri - cirinya.
1)
Mengalami suatu kelambatan bicara bila dibandingkan dengan teman seusianya dan
tidak dapat mengucapkan kata - kata dengan secara benar.
2)
Lambat dalam mengenali alfabet, angka, hari, bulan, warna, bentuk, dan
informasi mendasar lainnya. Serta mengalami kesulitan dalam menyusun huruf - huruf
pada kata.
3)
Sulit menyuarakan bunyi dan memadukannya.
4)
Sulit mengeja dengan benar
5)
Membaca satu kata dengan benar di satu halaman, tapi salah dihalaman berikutnya
6)
Kesulitan dalam memahami apa yang dibaca
7)
Sering terbalik dalam menuliskan atau mengucapkan kata
8)
Rancu dengan kata - kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi
9)
Bingung mau memakai tangan yang mana untuk menulis
10)
Menulis angka dan huruf dengan hasil yang sangat kurang baik
Penanganan
1.
Memberikan pendidikan khusus kepada anak yang dicurigai
mengidap disleksia ini, agar pendidikan yang diberikan sesuai dengan kemampuan
anak.
2.
Memanfaatkan visual dan taktil anak untuk mengingat
huruf sehingga anak menjadi mudah mengerti.
3.
Bantu anak menemukan kepercayaan dirinya sehingga anak
tidak putus asa dan merasa ragu terhadap dirinya sendiri. Rasa percaya diri
membuat anak menjadi yakin untuk menggali potensi dan kemampuan dirinya.
4.
Membiarkan anak berkembang dengan imaginasinya namun
tetap dalam pengawasan orang tua.
5.
Selalu dukung anak dan berikan apresiassi dari setiap
hal positif yang ditunjukannya, hal ini dapat meningkatkan keinginan anak untuk
lepas dari beban dan bangkit untuk belajar.
V.
KESIMPULAN
Pada
dasarnya dari contoh kasus yang kami ambil, disleksia bisa disembuhkan dengan
penanganan khusus. Orang tua menjadi dasar atau kekuatan utama agar anak tidak
terpuruk dan terus rapuh karena disleksia.
Di
perlukan kesabaran dan ketekunan dalam mengasuh anak-anak disleksia, karna pada
dasarnya pengubahan pola pikir anak-anak penderita disleksia ini memang di
butuhkan waktu lama.
Selalu
dukung kreativitas mereka, akan tetapi perlu tetap diadakan pengawasan terhadap
kegiatan-kegiatan mereka. Jangan pernah menganggap anak bodoh dan lamban dalam
melakukan apapun. Bantulah anak menemukan keunggulan diri, agar bisa merasa
bangga dan tidak pesimis terhadap hambatan yang saat ini sedang diatasi.
Penyakit
disleksia bukanlah penyakit yang menular atau mematikan jadi diharapkan kepada
setiap pihak yang salah satu anggota keluarganya mengalami disleksia tidak
menjadikan keadaan ini menjadi suatu pembatas sosial.
VI.
Pelajaran
yang ditarik kelompok
Dari seluruh faktor yang menyebabkan terjadinya
disleksia atau kesulitan membaca yang paling penting dalam menangani masalah
ini adalah dukungan dari orang-orang sekitar. Setiap masalah yang terjadi bukan
tidak mungkin bisa disembuhkan asalkan ada kemauan yang keras. Para penderita
Disleksia atau penderita kesulitan belajar yang lainnya memilki kekurangan
dalam belajar tapi bukan berarti mereka bodoh oleh karena itu kita tidak boleh
membeda-bedakan tapi kita harus memberi motivasi. Sebagai Seorang yang dekat
dengan mereka seharusnya bisa mengenali dan mengidentifikasi karakteristik
kemampuan yang terjadi di anak tersebut. Inilah kewajiban kita seseorang yang
dekat mereka sekaligus faktor yang dapat
menentukan keberhasilan penanganan malah belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar