PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang
Tikus biasanya lebih dikenal
sebagai hama tanaman pertanian, perusak
benda-benda digudang dan hewan penganggu yang menjijikan diperumahan. Pada
dasarnya hewan ini membawa, menyebarkan dan menularkan berbagai penyakit kepada
manusia, ternak dan hewan peliharaan. Penyakit yang ditularkan dapat disebabkan
oleh infeksi berbagai agen penyakit dari kelompok virus, bakteri, protozoa dan
cacing. Penyakit tersebut dapat ditularkan kepada manusia secara langsung oleh
ludah, urin dan fesesnya atau melalui gigitan ektoparasitnya (kutu, pinjal,
caplak dan tungau).
Sistem pengendalian
hama yang dapat dibenarkan secara ekonomi dan berkelanjutan yang meliputi
berbagai pengendalian yang kompatibel dengan tujuan memaksimalkan produktivitas
tetapi dengan dampak sekecil-kecilnya.
Perkembanganbiakan
tikus sangat cepat, umur 1, –5 bulan sudah dapat berkembangbiak, setelah hamil
21 hari setiap ekor dapat melahirkan 6-8 ekor anak, 21 hari kemudian pisah dari
induknya dan setiap tahun seekor tikus dapat melahirkan 4 kali.Di Indonesia tercatat tidak kurang
dari 150 jenis tikus, kira-kira 50 jenis masuk dalam genus Bandicota, Rattes
dan Mus.
Tikus dapat
masuk di sudut rumah. Mereka dapat menghasilkan sampah juga membuang kotoran di
rumah rumah yang menjadi sarang tikus.Tikus juga dapat masuk ke dapur dan buang
air kecil di sekitar peralatan masak dan bahan makanan.Akibatnya jika peralatan
tidak dicuci dengan baik dan juga jika makanan yang tercemar oleh tikus dapat
menyebabkan penyakit berbahaya.keberadaan tikus di rumah – rumah harus di
kontrol secara rutin agar tidak terjadi penyakit yang tidak di inginkan.Tikus
dapat menyebabkan banyak kerusakan di dalam rumah. Tikus juga dapat menghancurkan peralatan listrik dan
elektronik.
Fakta tentang Tikus sebagai vektor
penyakit berbahaya seperti leptospirosis, sampar (pes) , thypus, cacing, merusak bahan makanan dan perlatan menjijikan dan membuat tidak nyaman.
a.1 Klasifikasi
Tikus dan mencit
termasuk familia Muridae dari kelompok mamalia (hewanmenyusui). Para
ahli zoologi (ilmu hewan) sepakat untuk menggolongkannyakedalam ordo Rodensia
(hewan yang mengerat), subordo Myomorpha, familiMuridae, dan sub famili
Murinae. Untuk lebih jelasnya, tikus dapatdiklasifikasikan sbb :
Dunia : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Mammalia
Subklas : Theria
Ordo : Rodentia
Sub ordo : Myomorpha
Famili : Muridae
Sub famili : Murinae
Genus : Bandicota, Rattus, dan Mus
a.2 Biologi
Anggota Muridae ini dominan
disebagian kawasan didunia. Potensi reproduksi tikus dan mencit sangat tinggi
dan ciri yang menarik adalah gigi serinya beradaptasi untuk mengerat (mengerat
+ menggigit benda-benda yang keras).
Gigi seri ini terdapat pada rahang
atas dan bawah, masing-masing sepasang. Gigi seri ini secara tepat akan tumbuh
memanjang sehingga merupakan alat potong yang sangat efektif. Tidak mempunyai
taring dan graham (premolar). Karakteristik lainnya adalah cara berjalannya dan
perilaku hidupnya. Semua rodensia komensal berjalan dengan telapak kakinya.
Beberapa jenis Rodensia adalah Rattus norvegicus, Rattus rattus diardi, Mus
musculus yang perbandingan bentuk tubuhnya seperti terlihat pada gambar ;


Gambar 1.
Gambar 2.
Beberapa jenis rodensia (tikus dan mencit) Tipe kaki rodensia (Tikus dan
mendit)
berdasarkan
ukuran bentuk tubuhnya
a.3 Kebiasaan
dan habitat
Tikus dikenal sebagai binatang kosmopolitan yaitu
menempati hampir di semua habitat (Lampiran 1). Habitat dan kebiasaan jenis
tikus yang dekat hubungnnya dengan manusia adalah sebagai berikut :
R. norvegicus
Menggali lubang, berenang dan
menyelam, menggigit benda-benda keras seperti kayu bangunan, aluminium dsb.
Hidup dalam rumah, toko makanan dan gudang, diluar rumah, gudang bawah tanah,
dok dan saluran dalam tanah/riol/got.
R.
ratus diardii
Sangat pandai memanjat, biasanya
disebut sebagai pemanjat yang ulung,
menggigit
benda-benda yang keras. Hidup dilobang pohon, tanaman yang
menjalar.
Hidup dalam rumah tergantung pada cuaca.
M.
musculus
Termasuk rondensia pemanjat,
kadang-kadang menggali lobang, menggigit
hidup didalam
dan diluar rumah.
a.4 Kemampuan
alat indera dan fisik
Rodensia termasuk binatang
nokturnal, keluar sarangnya dan aktif pada malam hari untuk mencari makan.
Untuk itu diperlukan suatu kemampuan yang khusus agar bebas mencari makanan dan
menyelamatkan diri dari predator (pemangsa) pada suasana gelap.
a.4.1 Kemampuan alat indera
1) Mencium
Rodensia mempunyai daya cium yang tajam,
sebelum aktif/keluar sarangnya ia akan mencium-cium dengan menggerakkan kepala
kekiri dan kekanan. Mengeluarkan jejak bau selama orientasi sekitar sarangnya
sebelum meninggalkannya. Urin dan sekresi genital yang memberikan jejak bau
yang selanjutnya akan dideteksi dan diikuti oleh tikus lainnya. Bau penting
untuk Rodensia karena dari bau ini dapat membedakan antara tikus sefamili atau
tikus asing. Bau juga memberikan tanda akan bahaya yang telah dialami.
2) Menyentuh
Rasa menyentuh sangat berkembang
dikalangan rodensia komensal, ini untuk membantu pergerakannya sepanjang jejak
dimalam hari. Sentuhan badan dan kibasan ekor akan tetap digunakan selama
menjelajah, kontak dengan lantai, dinding dan benda lain yang dekat sangat
membantu dalam orientasi dan kewaspadaan binatang ini terhadap ada atau
tidaknya rintangan didepannya.
3) Mendengar.
Rodensia sangat sensitif terhadap
suara yang mendadak. Disamping itu rondesia dapat mendengar suara ultra.
Mengirim suara ultrapun dapat.
4) Melihat.
Mata tikus khusus untuk melihat pada
malam hari, Tikus dapat mendekteksi gerakan pada jarak lebih dari 10 meter dan
dapatmembedakan antara pola benda yang sederhana dengan obyek yang ukurannya
berbeda-beda. Mampu melakukan persepsi/perkiraan pada jarak lebih 1 meter,
perkiraan yang tepat ini sebagai usaha untuk meloncat bila diperlukan.
5) Mengecap.
Rasa mengecap pada tikus berkembang
sangat baik. Tikus dan mencit dapat mendekteksi dan menolak air minum yang
mengandung phenylthiocarbamide 3 ppm, pahit.
a.4.2
Kemampuan fisik.
1) Menggali
R. norvegicus adalah binatang penggali lubang. Lubang digali untuk
tempat perlindungan dan sarangnya. Kemampuan menggali dapat mencapai 2-3 meter
tanpa kesulitan.
2) Memanjat
R. komensal adalah pemanjat yang ulung. Tikus atap atau tikus rumah
yang bentuk tubuhnya lebih kecil dan langsing lebih beradaptasi untuk memanjat
dibandingkan dengan tikus riol/got. Namun demikian kedua spesies tersebut dapat
memanjat kayu dan bangunan yang permukaannya kasar. Tikus riol/got dap memanjat
pipa baik di dalam maupun di luar.
3) Meloncat
dan melompat.
R.norvegicus dewasa dapat meloncat 77 cm lebih (vertikal). Dari
keadaan berhenti tikus got dapat melompat sejauh 1,2 meter. M.musculus meloncat
arah vertikal setinggi 25 cm.
4)
Menggerogoti.
Tikus menggerogoti bahan
bangunan/kayu, lembaran almunium maupun campuran pasir, kapur dan semen yang
mutunya rendah.
5) Berenang
dan menyelam.
Baik R. norvegicus, R. rattus dan
M. musculus adalah perenang yang baik. Tikus yang dusebut pertama adalah
perenang dan penyelam yang ulung, perilaku yang semi akuatik, hidup disaluran
air bawah tanah, sungai dan areal lain yang basah.
B. Rumusan
Masalah
Rumusan masalah
kami membahas beberapa penyakit
yang disebabkan oleh tikus dan bagaimana cara menanggulangi atau mengurangi
bahaya yang dapat di sebabkan oleh tikus
sebagai, dan bagaimana cara untuk mrngurangi populasi tikus.
C. Tujuan
Berdasarkan latar belakang dan
rumusan masalah, maka makalah ini
bertujuan untuk membahas macam-macam penyakit, yang di sebabkan
oleh tikus dan membahas
bagaimana cara menanggulangi dan mengatasi masalah penyakit yang ditumbulkan
oleh tikus.
BAB 3
PEMBAHASAN
PENYAKIT-PENYAKIT DARI VEKTOR
TIKUS
Tikus adalah mamalia
yang termasuk dalam sukuMuridae.Spesies
tikus yang paling dikenal adalah mencit
(Mus spp.) serta tikus got (Rattus norvegicus)
yang ditemukan hampir di semua negara dan merupakan suatu organisme
model yang penting dalam biologi;
juga merupakan hewan peliharaan
yang populer. Tikus
diketahui dapat mengirimkan sejumlah penyakit langsung (melalui gigitan) atau
tidak langsung melalui gigitan parasit yang ditemukan pada tikus atau oleh
kontaminasi makanan dengan urin atau feses.
A.
Leptospirosis
Leptospirosis sesungguhnya tergolong penyakit hewan yang
bisa menjangkiti manusia juga, atau disebut zoonosis.Leptospirosis adalah
penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira berbentuk spiral yang
menyerang hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1
bulan. Tetapi dalam air laut, selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan
cepat mati. Di dunia kedokteran veteriner, penyakit ini bukan asing lagi,
bahkan telah lama sekali dikenal.Vaksinasi hewan peliharaan terhadap penyakit
leptospirosis pun telah rutin dilakukan.
Manusia terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air,
tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air tikus yang menderita
leptospirosis.Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir
(mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau atau makanan yang terkontaminasi
oleh urine hewan terinfeksi leptospira.Masa inkubasi selama 4 - 19 hari.
Gejala Klinis
|
Stadium Pertama
|
Stadium Kedua
|
|
· Demam menggigil
· Sakit kepala
· Malaise
· Muntah
· Konjungtivitis
· Rasa nyeri otot betis dan punggung
· Gejala-gejala diatas akan tampak
antara 4-9 hari
· Gejala yang Kharakteristik
· Konjungtivitis tanpa disertai
eksudat serous/porulen (kemerahan pada mata)
· Rasa nyeri pada otot-otot
|
· Terbentuk anti bodi di dalam tubuh
penderita
· Gejala yang timbul lebih
bervariasi dibandingkan dengan stadium pertama
· Apabila demam dengan gejala-gejala
lain timbul kemungkinan akan terjadi meningitis.
Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat. |
Komplikasi Leptospirosis
- Pada hati : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6
- Pada ginjal : gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian.
- Pada jantung : berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang dapat mengikabatkan kematian mendadak.
- Pada paru-paru : batuk darah, nyeri dada, sesak nafas.
- Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernafasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata (konjungtiva).
- Pada kehamilan : keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati.
Pencegahan
sanitasi sekitar rumah dan
lingkungan, higiene perorangannya dilakukan dengan menjaga tangan selalu
bersih. Selain terkena air kotor, tangan dapat tercemar kuman dari binatang
piaraan yang sudah terjangkit penyakit dari tikus atau hewan liar.Hindari
kontak dengan kencing binatang piaraan.Biasakan memakai alat pelindung diri,
seperti sarung tangan karet sewaktu berkontak dengan air kotor, pakaian
pelindung kulit, beralas kaki, memakai sepatu bot, terutama jika kulit ada
luka, borok, atau eksim.Selalulah membasuh tangan sehabis menangani binatang,
ternak, atau membersihkan gudang, dapur, dan tempat-tempat kotor.Kebersihan
lingkungan, khususnya rumah, harus dilakukan secara terus menerus. Jangan
memberi kesempatan tikus berkembang biak di dalam rumah. Bahkan tikus rumah
perlu dibasmi sampai ke sarang-sarangnya.
Membiasakan diri dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS), Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari
tikus.Mencucui tangan dengan sabun sebelum makan.Mencucui tangan, kaki serta
bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/
kebun/sampah/tanah/selokan dan tempat-tempat yang tercemar lainnya.Menghindari
adanya tikus di dalam rumah/gedung.Menghindari pencemaran oleh tikus.Melakukan
desinfeksi terhadap tempat-tempat tertentu yang tercemar oleh tikus
Meningkatkan penangkapan tikus.
Pengobatan
Pengobatan dini sangat menolong
karena bakteri Leptospira mudah mati dengan antibiotik yang banyak di jumpai di
pasar seperti Penicillin dan turunannya (Amoxylline) Streptomycine,
Tetracycline, Erithtromycine.Bila terjadi komplikasi angka lematian dapat
mencapai 20%, segera berobat ke dokter terdekat.
B.
PLAGUE/PENYAKIT PES
Penyebaran penyakit plague/pes
Plague, disebut juga penyakit pes, adalah infeksi yang disebabkan bakteri
Yersinia pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea), Xenopsylla
cheopis. Pess terbagi menjadi 2 yaitu :
1.
Pes Bubo
Pes
Bubo merupakan penyakit yang mempunyai gejala demam tinggi, tubuh dingin,
menggigil, nyeri otot, sakit kepala hebat, dan ditandai dengan pembengkakan
kelenjar getah bening di pangkal paha, ketiak dan leher (bubo).Pada pemeriksaan
cairan bubo di laboratorium ditemukan kuman pes (Yersinis pestis).
2.
Pes
Pneumonik
Pes
pneumonik adalah penyakit yang mempunyai gejala batuk secara tiba-tiba dan
keluar dahak, sakit dada, sesak nafas, demam, muntah darah.Pada pemeriksaan
sputum atau usap tenggorok ditemukan kuman pes (Yersinis pestis), dan apabila
diperlukan dilakukan pemeriksaan darah untuk menemukan zat antinya.
Penyakit ini menular lewat gigitan
kutu tikus, gigitan/cakaran binatang yang terinfeksi plague, dan kontak dengan
tubuh binatang yang terinfeksi. Kutu yang terinfeksi dapat membawa bakteri ini
sampai berbulan2 lamanya. Selain itu pada kasus pneumonic plague, penularan
terjadi dari dari percikan air liur penderita yang terbawa oleh udara. Jenis-
jenis plague dan gejalanya pada manusia
Ada 3 jenis penyakit plague yaitu:
|
Bubonic plague
|
Septicemic plague
|
Pneumonic plague
|
|
· Masa inkubasi 2-7 hari.
· Gejala : kelenjar getah bening dekattempat
gigitan binatang/kutu yang terinfeksi akan membengkak berisi cairan (disebut
Bubo).
· Terasa sakit apabila ditekan.
· Pembengkakan akan terjadi.
· Gejalanya mirip flu, demam,pusing,menggigil,
lemah, benjolan lunak berisi cairan di di tonsil/adenoid (amandel), limpa dan
thymus. Bubonic
· plague jarang menular pada orang
lain.
|
·
Gejala : demam, menggigil, pusing, lemah,
sakit pada perut, shock,
·
pendarahan
di bawah kulit atau organ2 tubuh lainnya,
·
pembekuan
darah pada saluran darah,
·
tekanan
darahrendah,
·
mual,
muntah dan organ
tubuh tidak bekerja dengan baik.
·
Tidak
terdapat benjolan pada penderita.
·
Jarang menular
·
Dapatjugadisebabkan
Bubonic plague dan Pneumonic plague yang tidak diobati dengan benar.
|
·
Masa
inkubasi 1-3 hari.
·
Gejala : pneumonia (radang paru2), napas
pendek, sesak napas, batuk, sakit pada dada.
·
paling
berbahaya dibandingkan jenis lainnya.
·
menular
lewat udara,
|
Pengobatan plague
Plague pada manusia dan kucing dapat diobati dengan
Streptomycin, Tetracyclin, Doxycyclin, Gentamycin. Streptomycyn dosis tinggi
terbukti lebih efektif mengobati plague.Penicilin tidak efektif untuk penyakit
plague.Diazepam diberikan untuk mengurangi rasa lelah.Heparin biasanya
diberikan apabila terdapat gejala pembekuan darah.
Pencegahan plague
1.
Orang atau binatang di sekitar penderita plague harus diobati dg antibiotic
selambat2nya 7 hari setelah kontak dg penderita.
2.
Memakai sarung tangan, baju panjang, masker, dan goggle (kacamata) pd waktu
kontak dg penderita plague
3. Tidak mengijinkan kucing makan tikus, kelinci atau
binatang hidup berdarah panas lainnya.
4. Tidak mengijinkan kucing bermain di luar rumah, terutama
di daerah yg banyak terdapat sarang tikus.
5. Mengontrol populasi tikus dan kutu di lingkungan anda.
6. Vaksinasi plague apabila akan bepergian ke daerah epidemi
plague.
C. Sindrom hantavirus paru (PS)
Hantavirus sindrom paru (HPS) adalah penyakit mematikan yang
ditularkan oleh tikus yang terinfeksi melalui urine, kotoran, atau air liur.
Manusia bisa terkena penyakit ini ketika mereka menghirup virus aerosol.HPS
pertama kali diakui pada tahun 1993 dan sejak itu telah diidentifikasi di
seluruh Amerika Serikat.Meskipun jarang, HPS berpotensi mematikan. Rodent
control di dalam dan sekitar rumah tetap menjadi strategi utama untuk mencegah
infeksi hantavirus. maka gejala yang dapat diamati : diare, muntah, mual, dan
kram perut.
D. Rat-gigitan demam (RBF)
Rat-gigitan demam (RBF) adalah penyakit sistemik yang
disebabkan oleh bakteri moniliformis Streptobacillus yang dapat diperoleh
melalui gigitan atau goresan dari binatang pengerat atau menelan makanan atau
air yang terkontaminasi dengan kotoran tikus. Salah satu penyakit berbahaya
yang disebabkan oleh tikus adalah demam gigitan tikus.Penyakit demam tidak
disebabkan oleh gigitan tikus binatang pengerat tersebut langsung tetapi
langsung mempengaruhi manusia oleh mencemari atau buang air kecil dalam makanan
dan air yang dikonsumsi oleh manusia.Jika barang-barang makanan yang
terkontaminasi yang digunakan oleh manusia sengaja maka berbagai penyakit yang
dialami manusia.
Gejala-gejala
yang disebabkan oleh penyakit ini :
1. Demam
2. Mual
3. Muntah
4. Sakit kepala
5. Nyeri di punggung dan sendi.
PENGENDALIAN
TIKUS (Rodentstop Service)
a.
Proofing Infestation
Memastikan
bahwa seluruh konstruksi rumah tidak adanya celah yang memungkinkan tikus
masuk, baik dari bawah pintu, lubang pembuangan air, atau dari bawah saluran
air. Kami akan merekomendasikan kepada klien bila dijumpai adanya celah masuk
tikus untuk di-proofing/ditutup; biasanya dengan jaring kawat pada area
pembuangan air.
b.
Sanitation
Bila
ditemukan tempat yang sanitasinya kurang baik dan bisa menjadi factor penarik
tikus atau bahkan sumber makanan tikus atau menjadi tempat sarang tikus, maka
akan merekomendasikan diadakan perbaikan oleh klien.
c.
Treatment Tikus (Rodent Control)
Pengendalian
tikus menggunakan Rat Baiting. Penggunaan trap untuk jangka panjang menimbulkan
tikus jera umpan dan neophobia terhadap trap. Penggunaan trap hanya untuk
tempat-tempat yang sangat khusus dengan populasi tikus yang rendah.
Penempatan
Rodent Bait dilaksanakan pada area tertentu yang akan menarik tikus dari dalam
sarang ke luar, atau ketempat yang tidak sensitive, seperti area parkir/garden,
setelah itu baru difokuskan untuk tikus yang aktifitasnya dengan radius pendek
yakni tikus nyingnying (mice/Mus musculus), umpan ditempatkan di dalam.
Keraguan
akan adanya resiko bau bangkai dapat diatasi dengan konfigurasi penempatan
umpan untuk setiap kategori jenis tikus, jadi dengan penempatan umpan pada
suatu lokasi dapat dideteksi sampai sejauh mana lokasi tempat tikus tersebut
mati, ditambah tenaga serviceman cukup berpengalaman mengatasi masalah tikus di
puluhan Rumah (housing), Mall, industri (pergudangan), Rumah Sakit, Hotel / Apartemen.
Referensi
Agus
Samsudrajad S ,Laporan
Praktikum Pengendalian Vektor,
Pemasangan Perangkap,
pemeriksaan, dan penyisiran Tikus, 2008
Politeknik
Kesehatan KEMENKES Pontianak Jurusan
Kesehatan Lingkungan, Makalah
Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar